Memaknai Idul Fitri : Antara Ikhtiar Dan Tantangan Kembalinya Fitrah Manusia Di Tengah Pergumulan Sosial

أللهُ أَكْبَرُ (×٣) أللهُ أَكْبَرُ (×٣) أللهُ أَكْبَرُ (×٣)

وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ أللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ  

Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri Masjid Jombang Permai, rahimakumullah,

Dengan mengucapkan “al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin” sebagai wujud syukur kita secara lahiriah, hari ini kita telah memasuki suasana baru sekaligus mulai mengukir kehidupan yang baru, setelah satu bulan melakukan puasa dan segala macam amal ibadah juga kebaikan. Kondisi itu, karena Allah telah mengampuni dosa-dosa kita kepada Allah (haqq Allah), sebagaimana hadis riwayat Imam al-Nasa’i dari Abu Hurayrah pada bab tsawab man qama Ramadlan wa shamahu imanan wa ihtisaban Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»

“Barang siapa mendirikan (ibadah) pada bulan Ramadlan dengan beriman kepada Allah dan bermaksud mendapatkan pahala, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dilahirkan ibunya”.

Pada kesempatan itulah, tentunya kita melahirkan syukur kita dengan membaca takbir, tasbih dan tahmid kepada Allah. Selain kita bersyukur kepada Allah, kita juga harus berdoa, semoga semua ibadah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadlan, diterima oleh Allah. Hal ini sebgaimana riwayat Imam al-Bayhaqi dari sahabat Watsilat ibn al-Asqa’, sebagaimana pada Al-Sunan al-Kubra karya Imam al-Bayhaqi pada bab ma ruwiya fi qaul al-nas yaum al-‘id ba’dluhum li ba’dl: taqabbalallahu minna wa minka,  ia mengatakan:

لَقِيتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ , قَالَ: ” نَعَمْ , تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ “

 “Ketika saya bertemu dengan Rasul Allah saw. pada hari ‘id, saya mengatakan: “taqabbal Allah minna wa minka: semoga Allah menerima (puasa) kami dan engkau”, maka beliau menjawab: “ya, “taqabbal Allah minna wa minka: semoga Allah menerima (puasa) kami dan engkau”.

Secara waktu, kita telah memasuki hari ‘id al-fithr (Hari Raya Kesucian), lantaran dosa-dosa kita kepada Allah (haqq Allah) telah diampuni, walaupun dosa dan kesalahan kita kepada sesama manusia (haqq adami) masih harus dimohonkan ampunan dan kehalalannya (halal bi halal). Pada hadis Riwayat Imam Bukhari pada bab man kanat lahu madzlamat ‘inda al-rajul fa hallalaha lahu, hal yubayyin madzlamatah, Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ»

“Barang siapa mempunyai kesalahan kepada saudaranya, baik pada kehormatan atau sesuatu, maka mintalah kehalalan darinya pada hari itu, sebelum tidak berlaku dinar dan dirham; jika ia mempunyai (pahala dari) amal shaleh, maka (pahala itu) akan diambil darinya sesuai kadar kedzalimannya; dan jika ia tidak mempunyai kebaikan, maka kejelekan (yang terdzalimi) akan dibebankan padanya”.

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Hadirin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Mengawali khutbah ini, kami berwasiat kepada kita semua, agar senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan melakukan semua perintah dan meninggalkan laranganNya. Khususnya pada hari ‘id al-fithr ini, kita yang sesungguhnya telah memasuki bulan Syawwal (bulan peningkatan kebaikan), karena kita harus selalu berusaha meningkatkan kebaikan kita, baik kepada Allah dan RasulNya maupun kepada sesama manusia. Kondisi itu harus kita upayakan, agar puasa kita diterima Allah, dan bukan sekedar kegiatan rutinitas, apa lagi perayaan hari raya yang serba fantastis tanpa makna ruhani. Dengan demikian, pada bulan Syawal itu umat Islam diharapkan dapat menjadi insan yang lebih baik dari pada bulan-bulan sebelumnya.

Selama satu bulan penuh kita telah menjalani pendidikan dan pelatihan di Madrasah Ramadlan. Selama itu, kita dididik untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah ta’ala, sekaligus dilatih untuk memperbaiki hubungan kita dengan sesama hamba. Pada masa pendikan dan pelatihan itu, kita harus berhadapan dengan banyak rintangan dan tantangan. Al-hamdu lillah berkat pertolongan Allah, kita mampu menghadapinya. Maka pada hari raya ini, semestinya kita merayakan kemenangan sebagai orang-orang yang berhasil melewati berbagai rintangan selama menjalani pendidikan di Madrasah Ramadlan. Kita rayakan keberhasilan kita, karena telah mampu menundukkan hawa nafsu. Kita rayakan kesuksesan kita, karena telah mampu mengalahkan tipu daya setan. Kita rayakan kemenangan kita, karena telah mampu melewati Ramadlan dengan berbagai ibadah dan kebaikan. Di hari raya ini, kita semestinya juga merayakan kelulusan kita dari Madrasah Ramadlan dengan meraih predikat sebagai orang-orang yang bertakwa ((لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. Jika pada hari-hari setelah Ramadlan selama 11 bulan ke depan, kita tidak mampu menundukkan hawa nafsu dan masih kalah dengan tipu daya setan, berarti kita belum berhasil menjadi orang-orang yang bertakwa, dan karena itu pantaskah di hari yang fitri ini kita merayakan kemenangan?, dan bahkan layakkah kita berhari raya?, karena hakikat berhari raya hanyalah bagi orang-orang yang mampu meningkatkan ketaatan, bukan bagi orang-orang yang sekedar berpakaian baru. Lau apa yang kita rayakan pada hari raya ini jika kita belum benar-benar menjadi orang-orang yang bertakwa?. Oleh karena itu, hadirin sekalian, marilah kita introspeksi dan evaluasi diri kita. Apakah kita telah layak merayakan kemenangan di hari raya ini?.

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Hadirin jamaah shalat Idul Fitri yang berbahagia,

Ramadlan adalah madrasah yang menempa diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, yaitu pribadi yang memenuhi hak Allah dan hak sesama hamba. Pribadi yang melakukan kewajiban kepada Allah  Swt. dan kewajiban kepada sesama hamba. Ketika menjalani pendidikan dan pelatihan di Madrasah Ramadlan, kita ditempa untuk menerima berbagai pelajaran.

Pelajaran pertama, adalah takwa.

Tujuan utama dari puasa adalah la’allakum tattaquun. Maksudnya, puasa Ramadlan diwajibkan agar menjadi wasilah bagi kita untuk meraih ketakwaan. Ketika berpuasa, kita mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan syahwat makan, minum dan syahwat-syahwat lainnya. Kita melakukan hal itu tiada lain karena kecintaan kita kepada Allah lebih besar dari pada kecintaan kita kepada diri kita sendiri. Di bulan Ramadlan, kita dilatih untuk mengajak berpuasa seluruh anggota badan semampu yang dapat kita lakukan. Mata diajak berpuasa untuk tidak melihat yang haram. Lisan diajak berpuasa untuk tidak mengucapkan perkataan yang diharamkan. Begitu pula, hidung, telinga, tangan, kaki dan sekujur badan ikut berpuasa untuk tidak melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Bahkan jika mampu, hati juga ikut berpuasa, dengan jalan mencegahnya secara total dari pikiran-pikiran duniawi dan segala hal selain Allah ta’ala.  

Pelajaran Kedua, adalah ikhlas.

Ikhlas adalah melakukan ketaatan semata-mata karena Allah. Puasa mengajarkan kita untuk ikhlas dan menghindarkan diri dari niat ingin memperoleh pujian dari sesama. Puasa seorang mukmin adalah rahasia antara dirinya dan Allah. Tiada yang mengetahui puasanya kecuali Allah dan dirinya sendiri. Jika mau, sangat mudah bagi kita untuk melakukan hal-hal yang membatalkan puasa tanpa diketahui oleh orang lain lalu kita tampakkan seolah-olah diri kita masih berpuasa. Kenapa hal itu tidak kita lakukan?, karena niat kita lillaahi ta’ala, bukan karena yang lain dan tidak bertujuan memperoleh sanjungan dari sesama makhluk.  

Puasa di bulan Ramadlan terdiri dari perbuatan hati dan perbuatan fisik untuk meninggalkan makanan, minuman dan menggauli istri pada siang hari. Karenanya, puasa merupakan perbuatan yang sangat bagus, walaupun sangat berat bagi nafsu. Dan karenanya, Allah memuji orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadlan dan menjanjikannya dengan ampunan dan pahala yang besar, sebagaimana firmanNya pada QS. Al-Ahzab, 35:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Dengan puasa, baik fardlu maupun sunnah, nafsu amarah dipaksa meninggalkan kejelekan, tidak bergantung pada materi, termasuk makanan dan minuman, fokus melakukan ibadah kepada Allah, dan membersihkan diri melalui zakat fitrah, berkat pertolongan Allah, sebagaimana puasa bagi orang yang belum mampu melakukan pernikahan. Karena itu, bulan Ramadlan merupakan sayyid al-syuhur, sebab di bulan itu diturunkan al-Qur’an, bulan ketaatan, ibadah, kebaikan, bulan ampunan, rahmat dan ridla Allah, laylat al-qadr, bulan dikabulkan doa orang mukmin. Dalam hadis Nabi saw., terdapat banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan bulan Ramadlan. Di bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

«مَنْ قَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

 “orang yang melakukan qiyam Ramadlan dengan beriman dan hanya berharap ridla Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang” (HR Imam Bukhari dari Abu Hurayrah ra. pada bab fadll man qama Ramadlan).

Pelajaran Ketiga, adalah sabar.

Di Madrasah Ramadlan, kita dilatih dan dididik untuk bersabar. Dengan berpuasa, kita belajar sabar dalam melakukan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan dan sabar dalam menghadapi musibah. Selama Ramadlan, kita bersabar dalam melakukan shalat-shalat fardlu maupun sunnah, sabar dalam membaca al Qur’an, sabar dalam beri’tikaf di masjid dan sabar dalam menjalankan berbagai amal kebaikan yang lain. Kita juga sabar dalam meninggalkan syahwat makan, minum, berhubungan badan dengan istri dan syahwat-syahwat lainnya mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Kita juga dilatih bersabar dalam menghadapi rasa lapar dan rasa haus, juga sabar dalam merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang tidak beruntung seperti kita.

Dalam pandangan Imam al-Ghazali sebagaimana dalam kitab Ihya’nya pada kitab asrar al-shaum, puasa, yang di dalamnya mengandung unsur kesabaran. Hal itu karena, puasa menolak dan meninggalkan perbuatan yang tidak baik, dan puasa merupakan perbuatan hati, bukan perbuatan indrawi, yang semata-mata hanya didasari kesabaran. Kecuali itu, puasa memaksa musuh-musuh Allah untuk tidak makan dan tidak minum, yang akan menguatkan syahwat dan akan menjadi sarana setan. Dalam Riwayat Imam Bukhari dari Shafiyyah pada bab shifat Iblis wa junudih, Rasulullah saw. bersabda:

” إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّيْ خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِيْ قُلُوبِكُمَا سُوْءًا،

Sesungguhnya setan berjalan pada diri anak adam melalui peredaran darah, dan sesungguhnya aku kawatir setan melempar kejelekan pada hati berdua, …”

Karena itu, puasa secara khusus mengekang setan, menutup jalan, dan mempersempit peredarannya, maka mengekang musuh Allah sama dengan membantu Allah dan membantu Allah pasti akan ditolong Allah. Dengan demikian, puasa menjadi pintu ibadah dan perisai terhadap kemaksiatan.

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Hadirin yang semoga dimuliakan Allah

Pelajaran Keempat, adalah mujahadah.

Puasa mengajarkan kepada kita untuk berjuang menghadapi hawa nafsu dan godaan setan dalam berbagai bentuknya sepanjang hari. Ketika kita berpuasa di bulan Ramadlan, sesungguhnya kita dididik mengendalikan hawa nafsu sejak fajar hingga terbenam matahari selama satu bulan penuh. Kita membakar hawa nafsu untuk tidak makan, tidak minum, tidak  menggauli istri dan mengekang diri untuk tidak melakukan kejelekan, bahkan tidak berkata yang jelek. Itulah sesungguhnya kita telah melakukan jihad terhadap nafsu, sebagai jihad al-akbar.

Pelajaran Kelima, adalah menjaga lisan.

Puasa mengajarkan kepada kita untuk menjaga lisan jangan sampai mengatakan ucapan yang tidak diridlai Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ والعَمَلَ بهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طعَامَه وشَرَابَه (رواه البخاريّ)

 “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak ada kepentingan bagi Allah terhadap puasanya” (HR al Bukhari pada bab man lam yada’ qaul al-zur wa al-‘amal bih fi al-shaum).  

Menjaga lisan di atas sesungguhnya termasuk sunnah dan adab berpuasa pada bulan Ramadlan. Di samping adab dan sunnah yang lainnya, yaitu sahur, berdoa setelah berbuka, memberi buka kepada orang-orang yang berpuasa, berkasih sayang kepada keluarga dan fakir miskin, memperbanyak mencari ilmu, membaca al-Qur’an dan dzikir, dan melakukan i’tikaf, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan. Semua itu, lebih bisa menjaga diri dari perbuatan yang dilarang dan mendorong melakukan perbuatan yang diperintah, terutama untuk mendapatkan laylat al-qadr. Inilah sesungguhnya “taqwa” yang diinginkan dari menjalankan puasa, yaitu kemampuan menjauhi larangan Allah bukan saja melakukan perintahNya.

Pelajaran Keenam, adalah mengendalikan amarah dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“الصِّيَامُ جُنَّةٌ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ، أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ”

“Sesungguhnya puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah bersikap keji dan jangan bertindak bodoh; jika ada orang yang mengganggunya atau mencacinya maka hendaklah ia berkata: aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa” (HR.Abu Dawud pada bab al-ghibat li al-sha’im).  

Pelajaran Ketujuh, adalah menjaga persatuan, kebersamaan dan saling tolong menolong serta berempati kepada orang yang membutuhkan. Madrasah Ramadlan mengajarkan kepada umat Islam untuk bersatu dan saling tolong menolong berlandaskan kesatuan akidah. Shalat tarawih secara berjamaah, tadarus al Qur’an bersama, berbuka puasa bersama di waktu yang sama, berbagi takjil di jalanan, i’tikaf bersama di masjid, kegembiraan menyambut hari raya yang sama, itu semua adalah jembatan yang menghubungkan antar hati yang sebelumnya mungkin saling membenci, perekat antar jiwa yang sebelumnya mungkin saling memusuhi serta wasilah yang mendekatkan antar warga yang sebelumnya mungkin saling menjauhi. Lalu zakat di akhir Ramadlan adalah perwujudan dari semangat saling tolong menolong dalam kebaikan dan membantu saudara-saudara sesama muslim yang membutuhkan.  

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Hadirin yang semoga dimuliakan Allah

Pelajaran Kedelapan, adalah menyambung dan mengokohkan tali silaturahim. Tradisi weweh dan riyayan sejatinya diambil dari ajaran Islam yang memerintahkan kita memperbanyak sedekah di bulan Ramadlan dan bersilaturahim pada momen menjelang dan pada saat hari raya. Tradisi tersebut dilakukan dengan cara mengirim makanan, minuman, sembako atau kue hari raya kepada kerabat dan sanak saudara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ»

“Sedekah kepada orang miskin adalah terhitung sedekah sedangkan sedekah kepada kerabat terhitung dua: sedekah dan silaturahim” (HR al-Nasa’i pada bab al-Shadaqah ‘ala al-Aqarib).  

Kesembilan, mengingat kematian  dan kehidupan akhirat. Ada juga tradisi yang sangat baik yang biasa kita lakukan di akhir bulan Ramadlan, yaitu nyekar: ziarah ke makam keluarga yang telah meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي تَعَالَى عَلَى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، فَاسْتَأْذَنْتُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ بِالْمَوْتِ»

“Aku telah meminta izin kepada Tuhanku untuk memintakan ampunan untuknya, namun aku tidak diizinkan; lalu aku meminta izin untuk berziarah ke kuburnya, maka aku diizinkan; maka lakukanlah ziarah kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu dapat mengingatkan kematian” (HR. Abu Dawud pada bab fi ziyarat al-qubur).

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Hadirin yang mudah-mudahan ditinggikan derajatnya oleh Allah,

Itulah sembilan di antara sekian banyak pelajaran dari Madrasah Ramadlan. Jika seluruh pelajaran itu sudah berhasil kita terapkan di bulan Ramadlan, marilah kita mempertahankannya setelah kita meninggalkan Ramadlan. Jika kesembilan pelajaran itu telah menghiasi diri kita baik di bulan Ramadlan maupun di luar bulan Ramadlan, sungguh kita termasuk orang-orang yang mulia menurut Allah ta’ala. Alangkah indah dan bahagianya, jika kita telah menjadi pribadi yang bertakwa, ikhlash dalam menjalankan ketaatan, selalu bersabar, kuat menundukkan hawa nafsu dan mengalahkan godaan setan, mampu menjaga lisan, dapat mengendalikan amarah dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, menjaga persatuan dan kebersamaan dengan saudara sesama muslim, senantiasa menyambung silaturahim, memperbanyak sedekah serta selalu mengingat kematian dan kehidupan akhirat. Dengan menerapkan 9 pelajaran itu secara istiqamah, kita telah menjadi hamba yang diridhai Allah dan kelak kita akan meraih kebahagiaan yang sejati, hakiki dan abadi di akhirat.  

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Di akhir khutbah ini, marilah kita mengingat Kembali penjelasan Imam al-Ghazali tentang tiga tingkatan puasa, yaitu tingkatan puasa orang awam, tingkatan puasa orang khusus dan tingkatan puasa orang khusus al-khusus.

Puasa orang awam, sebatas mencegah perut dan kemaluan dari segala keinginannya, sebagaimana uraian terkait yang wajib dan yang membatalkan puasa.

Puasa orang khusus, di samping mencegah perut dan kemaluan dari segala keinginannya, juga mencegah semua anggota badan dari perbuatan dosa, dan inilah tingkatan puasa orang-orang yang salih. Mencegah mata dari melihat segala sesuatu yang dicela dan dibenci, dan dari sesuatu yang dapat menyibukkan bahkan melalaikan hati dari berdzikir kepada Allah. Itulah sesuatu yang dimaksud oleh hadis Nabi saw., terdapat lima hal yang membatalkan puasa, yaitu berdosta, menggunjing, adu domba, sumpah palsu, dan melihat sesuatu disertai syahwat/keinginan. Menjaga lisan dari berdusta dan selainnya, dengan jalan menyibukkannya membaca al-Qur’an. Menjaga telinga dari mendengarkan perkara yang dibenci Allah (al-suht), seperti mendengarkan orang yang menggunjing. Mencegah seluruh anggota badan dari perbuatan dosa dan perkara syubhat terutama ketika berbuka. Tidak banyak makan dan minum walaupun dari perkara yang halal ketika berbuka, karena tujuan utama berpuasa adalah mengosongkan perut yang sangat efektif untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kekuatan hawa nafsu yang sangat berpoteni terhadap segala macam kejahatan yang tentu sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Setelah berbuka, harus muncul perasaan hati antara khawf dan raja’, apakah puasanya diterima sehingga tergolong orang-orang yang dekat dengan Allah (muqarrabin) atau ditolak sehingga tergolong orang-orang yang terkutuk (mamqutin). Perasaan ini seharusnya juga terjadi pada setiap selesai melakukan semua ibadah, apakah diterima atau ditolak, sebab ini merupakan langkah intropeksi diri.

Sedang puasa orang khusus al-khusus adalah puasanya hati dari pencernaan sesuatu yang material dan pemikiran duniawi bahkan menolak dari yang selain Allah secara totalitas. Pada tingkatan puasa ini, jika terjadi berfikir selain Allah dan hari akhir bahkan berfikir tentang dunia, maka puasanya menjadi batal, kecuali berfikir tentang dunia yang dimaksudkan untuk agama. Demikianlah tingkatan puasa para Nabi, orang-orang yang shiddiq dan orang-orang yang dekat dengan Allah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah Idul Fitri pada pagi hari yang penuh keberkahan ini. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kemampuan dan kekuatan untuk mengamalkan berbagai pelajaran dari Madrasah Ramadlan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan mudah-mudahan kita diberikan panjang umur serta dipertemukan kembali dengan Ramadlan pada tahun yang akan datang.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ, لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ،  

وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللَّهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ  

Dr. Khamim, M.Ag.
Dusun Gading Desa Gadingmangu Perak Jombang
085856116234

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *